Bukan Kalah Kualitas, Kok Game Lokal Sulit Menang di Negeri Sendiri?
Highlight Artikel
- Game buatan developer Indonesia belum menjadi pilihan utama karena model bisnisnya tidak sesuai dengan perilaku belanja gamer.
- Gamer di Indonesia cenderung menyukai model game free-to-play dengan transaksi kecil tapi sering, berbeda dengan game lokal yang banyak mengusung model premium untuk PC.
- Mayoritas gamer Indonesia (85% dari 160 juta lebih) bermain melalui perangkat mobile, sementara developer lokal banyak mengembangkan game untuk PC yang penggunanya menurun.
- Kementerian Ekraf menyarankan developer lokal untuk menyesuaikan model bisnis dan mengembangkan game mobile agar dapat bersaing di pasar Indonesia sendiri.
Uzone.id - Game buatan developer atau studio asal Indonesia belum menjadi pilihan utama bagi para gamer di negeri sendiri. Tapi, menurut Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), hal tersebut bukan karena kualitas game lokal yang kalah dari game buatan luar negeri.
Disampaikan Direktur Game di Ekraf, Luat Sihombing, masalah utamanya ada pada model bisnis game lokal yang belum sesuai dengan perilaku belanja para gamer di Indonesia.
“Bukan soal kualitas kalau saya bilang, tapi di behavior spending, perilaku belanjanya. Banyak di Indonesia yang memainkan mobile game dengan model free-to-play. Dari free-to-play, baru mereka melakukan transaksi,” ujar Luat, ditemui dalam agenda World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10).
Menurutnya, gamer Indonesia cenderung lebih suka mengeluarkan uang dalam jumlah kecil, tapi dilakukan berkali-kali melalui pembelian di dalam game. Pola tersebut berbeda dengan banyak game buatan developer Indonesia yang mengusung model premium atau harus membeli game di depan sebelum bisa memainkannya.
Kata Luat, banyak game lokal yang mengadopsi skema ini dirilis untuk PC, bukan perangkat mobile yang mendominasi pasar Indonesia.
“Perilaku masyarakat Indonesia lebih suka mengeluarkan uang sedikit-sedikit tapi sering, dibandingkan langsung mengeluarkan uang dalam jumlah besar. Sementara game yang dikeluarkan developer kita banyak yang merupakan premium game, yang dibayar di depan,” jelasnya.
Perbedaan model bisnis tersebut membuat besarnya jumlah gamer di Indonesia belum sepenuhnya bisa dimanfaatkan oleh developer lokal. Luat menyebut Indonesia memiliki lebih dari 160 juta gamer dan sekitar 85 persen di antaranya bermain melalui perangkat mobile.
Di sisi lain, jumlah pengguna PC di Indonesia disebut terus menurun setiap tahunnya, berbanding terbalik dengan pengguna perangkat mobile yang semakin besar.
“Jadi memang ada gap antara permintaan masyarakat Indonesia dengan kemampuan masyarakat untuk membeli PC. Makanya tidak matching. Developer Indonesia membuat game di PC, tapi pengguna PC di Indonesia semakin kecil,” katanya.
Luat menyampaikan, developer lokal perlu menyesuaikan produknya jika ingin berjaya di negeri sendiri. Salah satunya dengan mengembangkan game mobile yang bisa bersaing dan menawarkan model bisnis yang sesuai dengan kebiasaan pemain di sini.
“Mau tidak mau, developer Indonesia kalau mau masuk ke pasar Indonesia sendiri harus mengubah model bisnisnya,” tegas Luat.
Indonesia dan Singapura tak bisa dibandingkan langsung
Ketimpangan tersebut turut terlihat dalam laporan bertajuk ‘The Video Game Industry: Unlocking the Next Level of Economic and Social Development in Southeast Asia’ yang disusun Access Partnership dengan dukungan Tencent.
Dalam komposisi kontribusi nilai tambah industri game pada 2025, segmen developer dan publisher hanya menyumbang 7 persen di Indonesia. Angkanya jauh di bawah Singapura, di mana segmen yang sama mendominasi dengan kontribusi mencapai 67 persen.
Kendati demikian, Luat menilai kondisi Indonesia dan Singapura tidak bisa dibandingkan secara langsung. Singapura banyak dipilih sebagai tempat perusahaan didirikan maupun mencatatkan bisnisnya, sedangkan kegiatan operasional dan pasar penggunanya justru berada di negara lain, termasuk Indonesia.
“Kalau ditanya gap Indonesia dan Singapura, kadang kita tidak bisa bicara secara apple-to-apple. Singapura lebih kepada establishment company-nya, pencatatan sebagai perusahaannya. Tetapi secara operasional ada di Indonesia dan pasarnya ada di Indonesia,” jelas Luat.
Luat mengaku tidak mengetahui secara pasti seberapa besar jarak industri pengembangan game antara kedua negara. Namun, berdasarkan sejumlah data yang diterima pemerintah, ia memperkirakan sekitar 40 persen pasar dari beberapa publisher asing berada di Indonesia.
Lebih lanjut, Luat juga mengungkap bahwa ada sekitar 30 sampai 40 persen pengguna sejumlah platform pembayaran juga berasal dari Indonesia.
“Kalau ditanya secara market revenue, Indonesia pasti paling besar. Kita mungkin tidak bisa dibandingkan dengan Singapura karena Singapura tidak punya pasar sebesar Indonesia,” ujarnya.
Singapura memang memiliki nilai belanja per pengguna yang lebih tinggi. Namun, jumlah penggunanya lebih sedikit dibandingkan Indonesia. Sebaliknya, nilai belanja setiap gamer Indonesia cenderung lebih rendah, tetapi ditopang volume pemain yang jauh lebih besar.
“Mungkin spending per user mereka lebih besar, tapi volumenya kecil. Kita spending per user-nya lebih kecil, tetapi volumenya sangat besar,” pungkas Luat.
FAQ Artikel
Mengapa game lokal belum menjadi pilihan utama gamer di Indonesia?
Menurut Kementerian Ekraf, masalah utamanya bukan pada kualitas, tetapi pada model bisnis game lokal yang belum sesuai dengan perilaku belanja gamer di Indonesia. Banyak game lokal adalah game premium untuk PC, sementara gamer Indonesia menyukai game free-to-play di mobile.
Bagaimana perilaku belanja gamer Indonesia?
Gamer Indonesia cenderung lebih suka mengeluarkan uang dalam jumlah kecil, tapi dilakukan berkali-kali melalui pembelian di dalam game (in-game purchase) pada model free-to-play, khususnya di perangkat mobile.
Apa saran Kementerian Ekraf bagi developer game lokal?
Developer lokal perlu menyesuaikan produknya dengan mengubah model bisnis, yaitu mengembangkan game mobile yang bisa bersaing dan menawarkan model bisnis free-to-play yang sesuai dengan kebiasaan pemain di Indonesia.
Apakah pasar game Indonesia lebih besar dari Singapura?
Secara market revenue dan volume pemain, Indonesia memiliki pasar yang jauh lebih besar dibanding Singapura. Meskipun Singapura memiliki spending per user yang lebih tinggi, volume penggunanya lebih sedikit daripada Indonesia.