Berita Pilihan

Bukan Chip AI, Ini Alasan Tarif Chip China Ditunda ke 2027

Hayyitita Nastatih
Bukan Chip AI, Ini Alasan Tarif Chip China Ditunda ke 2027

Uzone.id — Saat membahas perang chip antara Amerika Serikat dan China, banyak orang langsung membayangkan prosesor AI super canggih atau GPU kelas data center. Namun, rencana tarif chip yang akan dikenakan AS justru bukan menyasar chip AI.

Fakta inilah yang menjadi salah satu alasan utama mengapa kebijakan tersebut ditunda hingga 2027.

Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) menyatakan bahwa tarif tersebut akan menyasar chip China berteknologi lama atau “Legacy Chip”.

Kebijakan ini merupakan tindak lanjut dari penyelidikan Pasal 301 yang diluncurkan tahun lalu saat Joe Biden masih menjabat sebagai presiden. USTR menilai bahwa perluasan kapasitas produksi chip China yang didukung negara telah membebani perdagangan AS, sehingga dianggap “dapat ditindaklanjuti” berdasarkan hukum perdagangan.

“Upaya China yang menargetkan dominasi di industri semikonduktor adalah tindakan yang tidak masuk akal serta membebani atau membatasi perdagangan AS, sehingga dapat ditindaklanjuti,” ujar Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) dalam pernyataannya.

Di sisi lain, Kedutaan Besar China di Washington menyatakan penolakan terhadap rencana tarif tersebut. Dalam pernyataannya kepada Reuters, China menilai bahwa mempolitisasi dan menjadikan isu perdagangan serta teknologi sebagai alat tekanan hanya akan mengganggu rantai industri dan pasok global.

Apa itu Legacy Chip?

Legacy chip bukanlah prosesor utama di smartphone atau komputer. Namun, perannya sangat krusial. Sesuai namanya, legacy chip mengusung teknologi lama namun masih diproduksi hingga sekarang.

Chip jenis ini banyak digunakan pada peralatan rumah tangga, mobil, mainan, dan perangkat elektronik konsumen sederhana.

                

Chip manufacture machine 

Sumber:globaltimes.cn
Chip manufacture machine Sumber:globaltimes.cn

Di smartphone, chip jenis ini digunakan untuk mengatur daya, sensor, audio, hingga driver layar. Sementara di sektor otomotif, legacy chip menjadi otak bagi berbagai sistem penting, mulai dari ECU, airbag, ABS, hingga infotainment.

Artinya, tanpa chip-chip ini, perangkat modern tidak bisa bekerja dengan normal meski prosesor utamanya sangat canggih.

Inilah sebabnya tarif chip China tidak bisa diperlakukan seperti pembatasan teknologi Al. Volume penggunaannya jauh lebih besar dan tersebar di berbagai sektor industri.

Ukuran fitur pada legacy chip umumnya berada di kisaran 30 nanometer atau lebih besar. Sebagai perbandingan, chip kelas atas terbaru seperti CPU dan SoC modern menggunakan teknologi dengan ukuran fitur jauh lebih kecil, yakni sekitar 2 hingga 5 nanometer.

Meski tidak secanggih chip terbaru, legacy chip sangat cocok untuk berbagai kebutuhan sehari-hari yang tidak memerlukan komputasi tingkat tinggi. Dari sisi harga, legacy chip jauh lebih terjangkau dibanding chip terbaru.

Alasan di balik penundaan tarif

Penundaan ini dilakukan di tengah upaya AS meredakan ketegangan setelah China memberlakukan pembatasan ekspor logam tanah jarang (Rare Earth Metals), bahan penting bagi rantai pasok teknologi global yang sebagian besar dikuasai Beijing.

Untuk menjaga agar pembicaraan kedua negara tetap berjalan, AS juga menunda aturan yang sebelumnya akan semakin membatasi ekspor teknologi AS ke unit-unit perusahaan China yang sudah masuk daftar hitam.

Secara bersamaan, pemerintah AS meluncurkan peninjauan kebijakan yang berpotensi membuka izin pengiriman chip kecerdasan buatan terkuat kedua milik Nvidia ke China, seperti dilaporkan Reuters.



Langkah ini dilakukan meski mendapat penolakan dari sejumlah anggota parlemen AS yang khawatir penjualan chip tersebut dapat meningkatkan kemampuan militer China.

Semikonduktor asal China sebenarnya sudah dikenai tarif tinggi sejak pemerintahan Biden yang dikenakan bea masuk sebesar 50 persen yang mulai berlaku pada 1 Januari 2025, di luar tarif yang telah ada sebelumnya.

Diketahui, China saat ini menjadi salah satu produsen terbesar legacy semiconductors karena mampu memproduksi chip-node lama secara massal, stabil, dan relatif murah.

Tidak semua pabrikan chip di luar China siap langsung mengambil alih volume produksi sebesar itu dalam waktu singkat.

Jika tarif diterapkan terlalu cepat, risiko gangguan pasokan justru bisa menghantam industri global, termasuk produsen perangkat di Amerika Serikat sendiri.

Penundaan ini diyakini dapat memberi ruang bagi industri untuk menyesuaikan rantai pasok tanpa menciptakan "kejutan" besar di sektor hardware.