Digilife

'Brain Rot' Itu Nyata, Hobi Scrolling Bikin Otak Rusak

Muhammad Faisal Hadi Putra
'Brain Rot' Itu Nyata, Hobi Scrolling Bikin Otak Rusak

Uzone.id - Istilah brain rot bukan sekadar bahasa gaul saja. istilah yang sempat dinobatkan sebagai ‘Word of the year’ oleh Oxford Dictionary pada 2024 lalu adalah kondisi medis nyata, berdasarkan riset yang dipublikasi oleh American Psychological Association (APA). 

Studi bertajuk ‘Feeds, Feelings, and Focus’ itu mengonfirmasi bahwa brain rot adalah sindrom neurokognitif yang menyebabkan kerusakan otak yang bisa diukur, dan biang kerok utamanya adalah video pendek (Short-Form Video/SFV) yang biasa ditonton di TikTok, Instagram Reels, atau YouTube Shorts. 

Para peneliti menganalisis data dari 98.299 partisipan yang tersebar di 71 studi berbeda. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin banyak konten video pendek yang ditonton seseorang, akan semakin memengaruhi kinerja otak mereka, seperti kehilangan konsentrasi, fokus, dan penurunan kualitas tidur.



Laporan tersebut menjelaskan bahwa paparan berulang terhadap konten yang serba cepat dapat menyebabkan habituasi, kondisi dimana pengguna menjadi kurang peka terhadap tugas-tugas yang lebih lambat dan menuntut secara kognitif, seperti membaca, memecahkan masalah, atau belajar.

“Seiring waktu, pola keterlibatan ini dapat mengurangi daya tahan kognitif dan melemahkan kemampuan untuk mempertahankan perhatian pada satu tugas,” tulis para peneliti APA, dikutip dari situs resminya.

Masalahnya tak berhenti di situ. Habituasi ini merangsang sensitisasi pada otak yang justru memperkuat kebiasaan buruk tersebut. Alhasil, dorongan untuk terus scrolling jadi makin sulit dibendung karena otak terus menagih konten-konten baru yang lebih menarik.

“Secara bersamaan, platform SFV dapat mendorong sensitisasi dengan menyediakan imbalan yang dikurasi secara algoritmik yang memperkuat keterlibatan impulsif. Kemampuan untuk langsung menggeser ke konten baru yang sangat menarik dapat mendorong pelepasan diri yang cepat dari rangsangan yang kurang memiliki kebaruan atau kegembiraan langsung,” jelas mereka.

Maka tak heran, riset ini juga menyoroti fakta bahwa anak muda zaman sekarang rata-rata menghabiskan waktu hingga 6,5 jam per harinya untuk scrolling konten di dunia maya.

Berdampak pada mental health

Bukan itu saja, kebiasaan terus-menerus melihat konten video pendek juga membawa efek samping serius bagi kesehatan mental. Menurut studi, penggunaan platform media sosial secara berlebihan berkaitan erat dengan isolasi sosial, tingkat kepuasan hidup yang rendah, hingga masalah kepercayaan diri dan citra tubuh yang rusak.



"Peningkatan penggunaan platform juga berkaitan dengan peningkatan kecemasan dan rasa kesepian," tambah para peneliti.

Singkatnya, paparan berlebihan terhadap konten-konten di media sosial benar-benar punya dampak nyata pada fungsi otak. Semakin sering kalian menonton video pendek di platform seperti TikTok, Instagram, atau YouTube Shorts, semakin pendek pula rentang perhatian kalian, serta memengaruhi kesehatan mental dan kemampuan berpikir kritis. 

“Secara keseluruhan, temuan ini menyoroti pentingnya memahami implikasi kesehatan yang lebih luas dari penggunaan SFV, mengingat perannya yang meluas dalam kehidupan sehari-hari dan potensinya untuk memengaruhi kesehatan, perilaku, dan kesejahteraan,” tulis para peneliti.