Gadget

Bos Asus Terang-terangan Sebut MacBook Neo Ancaman Serius

Muhammad Faisal Hadi Putra
Bos Asus Terang-terangan Sebut MacBook Neo Ancaman Serius

Uzone.id - Rilisnya laptop murah MacBook Neo ternyata bikin industri PC Windows was-was. Bahkan, petinggi Asus terang-terangan mengakui kalau MacBook Neo yang dibanderol USD599 atau Rp10 jutaan itu berhasil memberikan ‘efek kejut’ bagi mereka.

Dalam laporan keuangan terbarunya, Chief Financial Officer (CFO) Asus, Nick Wu, menyebut langkah Apple merilis laptop murah jelas menjadi ancaman. Terlebih, Apple selama ini dikenal selalu mematok harga premium. 

“Maaf, mengingat penetapan harga Apple yang secara historis sangat premium, peluncuran produk yang begitu terjangkau tentu saja mengejutkan seluruh pasar,” katanya, menurut transkrip yang diterbitkan oleh Seeking Alpha

Sebenarnya, kata Wu, Asus sudah mendengar kabar soal rencana kehadiran MacBook Neo sejak paruh kedua tahun lalu. Malah, perusahaan sempat melakukan persiapan internal. Akan tetapi, setelah produknya resmi meluncur, mereka justru menemukan adanya batasan spesifikasi.



Wu menyoroti kapasitas RAM MacBook Neo yang cuma 8 GB dan tidak bisa di-upgrade. Menurutnya, hal ini bakal membatasi pengguna saat menjalankan aplikasi tertentu. 

Karena itu, ia menilai Apple memposisikan MacBook Neo lebih untuk sekadar konsumsi konten, seperti fungsi tablet pada umumnya, yang jelas berbeda dengan skenario penggunaan laptop mainstream.

“Jadi menurut saya, ketika Apple memposisikan produk ini, mereka mungkin lebih fokus pada konsumsi konten. Ini agak berbeda dari skenario penggunaan notebook pada umumnya karena dalam hal itu, Neo terasa lebih seperti tablet karena tablet sebagian besar digunakan untuk konsumsi konten,” ucap Wu.

Namun, benchmark MacBook Neo mematahkan anggapan tersebut


Meski bos Asus meragukan performa MacBook Neo karena batasan hardware, sejumlah hasil review justru mengatakan sebaliknya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, performa MacBook Neo ternyata bisa mengalahkan kinerja MacBook Air yang ditenagai prosesor Apple M1. Dari hasil benchmark yang muncul di situs Geekbench, MacBook Neo mencatatkan skor single-core 3.461 poin dan multi-core 8.668 poin, sementara untuk pengujian grafis Geekbench Metal, skornya mencapai 31.286 poin.

Performa multi-core MacBook Neo ternyata mampu mengimbangi chip M1 pada MacBook Air, meski laptop tersebut memang telah dirilis 6 tahun lalu. Performa single-core-nya bahkan melesat meninggalkan chip M1, malah berhasil menempel ketat chip generasi yang lebih baru seperti M3 atau M4.



Tingginya kinerja single-core tersebut berarti bahwa laptop ini dirancang untuk kebutuhan harian yang ringan, seperti browsing dengan banyak tab, mengetik, atau streaming video tanpa ngelag.

Review MacBook Neo yang lain, seperti dikutip dari Macrumors, dipublikasi oleh seorang reviewer beernama Patrick Tomasso di YouTube. 

Ia memperlihatkan MacBook Neo sanggup melibas tugas berat tanpa kendala, seperti memutar video 4K di DaVinci Resolve dan Final Cut Pro, mengedit foto di Adobe Lightroom, sampai membuka banyak tab Google Chrome sekaligus.

Microsoft dkk siap jegal langkah Apple


Walaupun Asus meyakini ada celah spesifikasi, industri PC Windows tetap harus waspada dengan kehadiran MacBook Neo. 

Wu menegaskan bahwa seluruh vendor di ekosistem PC WIndows, termasuk raksasa seperti Microsoft, Intel, dan AMD, sedang berdiskusi serius merancang produk di ekosistem PC untuk menjegal langkah Apple.

“Jadi saya percaya semua vendor PC, termasuk vendor hulu seperti Microsoft, Intel, dan AMD, semuanya menanggapi hal ini dengan sangat serius, serius membahas bagaimana bersaing dengan produk ini di seluruh ekosistem PC,” tegas Wu.

“Jadi saya pikir ada banyak diskusi yang sedang berlangsung tentang bagaimana kita dapat—atau bagaimana mereka dapat bersaing dengan Neo,” sambungnya.



Kendati begitu, Wu tetap yakin kalau dampak dari hadirnya laptop murah Apple ini terhadap pasar PC secara keseluruhan tidak akan instan. Masih butuh waktu untuk melihat seberapa besar pergeseran yang akan terjadi ke depannya. 

Alasannya cukup masuk akal. Selama ini, kubu Apple dan kubu Intel—beserta ekosistem Windows pada umumnya—punya basis pengguna yang agak tersegmentasi karena perbedaan software, sehingga tidak mudah bagi pengguna untuk beralih antara dua ekosistem OS ini.

"Tidak semudah itu bagi pengguna untuk beralih di antara kedua ekosistem ini," ujar Wu.

Yang jelas, ekosistem PC WIndows tetap akan terus merancang deretan produk tandingan untuk ‘meladeni’ manuver Apple yang merilis laptop murah.

“Tetapi tentu saja, seluruh sistem PC akan meluncurkan produk yang sesuai untuk bersaing dengan Apple. Jadi hasil akhir persaingan pasar sulit diprediksi. Kita hanya membutuhkan lebih banyak waktu,” pungkasnya.