Digilife

Betah Mantengin Layar, Waktu Menonton Orang Indonesia Naik 34 Persen

Aisyah Banowati
Betah Mantengin Layar, Waktu Menonton Orang Indonesia Naik 34 Persen

Uzone.id – Meskipun menonton melalui layanan OTT sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia sejak lama, tahun ini industri streaming mengalami lonjakan baru.

Laporan internal platform OTT lokal Vidio mencatat bahwa industri streaming di Indonesia telah mengalami kenaikan. Secara total, penonton di Indonesia menghabiskan waktu untuk menonton 34 persen lebih lama dibandingkan periode sebelumnya.

Sementara itu, rata-rata waktu yang dihabiskan oleh setiap penonton untuk menonton konten juga meningkat sampai 22 persen.

Menariknya, sepanjang 2025, konten lokal semakin mendominasi pilihan tontonan masyarakat. Hal ini terlihat jelas pada kategori series, di mana lebih dari dua pertiga total durasi tontonan berasal dari produksi lokal.



Tren serupa juga terjadi pada kategori film yang didominasi oleh karya domestik hingga lebih dari 60 persen, serta kategori olahraga yang mencatatkan angka fantastis dengan 87 persen konsumsi berasal dari kompetisi lokal.

Hal ini menandakan bahwa pelanggan Vidio menghabiskan lebih banyak waktu untuk menikmati series, film, dan kompetisi lokal dalam negeri dibandingkan konten asing.

“Pertumbuhan yang terjadi di industri ini mencerminkan perubahan besar dalam cara masyarakat Indonesia menikmati hiburan. Konten yang relevan secara budaya, pengalaman menonton yang fleksibel, serta ruang bagi kreativitas lokal menjadi faktor penting dalam mendorong keterikatan audiens,” ungkap Teguh Wicaksono selaku Chief Marketing Officer Vidio.

Pertumbuhan streaming juga tercermin dari semakin meratanya partisipasi lintas demografi. Penonton perempuan mencatat pertumbuhan signifikan, dengan kenaikan hingga 31 persen serta peningkatan durasi tontonan yang jauh lebih tinggi, yaitu 89 persen.

Disusul peningkatan stabil dari penonton laki-laki, dengan jumlah penonton naik 6 persen dan durasi tontonan bertambah 24 persen.



Secara geografis, kota-kota utama seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya masih menjadi kontributor utama pertumbuhan durasi menonton dengan kenaikan di atas 30 persen secara tahunan.

Namun, yang tak kalah penting adalah menguatnya konsumsi di berbagai daerah lain, mulai dari Bali, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Sumatra Barat, hingga Maluku Utara.

Generasi muda, khususnya Gen Z, muncul sebagai penggerak utama pertumbuhan streaming. Kelompok ini tidak hanya aktif mengonsumsi konten, tetapi juga membentuk tren, percakapan, dan preferensi genre.

Jumlah penonton dengan rentang umur kurang dari 17 tahun mencatat kenaikan 78 persen dengan kenaikan 145 persen durasi menonton. Sementara itu, kelompok 18–24 tahun tumbuh 65 persen dengan lonjakan durasi hingga hampir 3x lipat atau meningkat sekitar 190 persen.

Pertumbuhan streaming sepanjang 2025 juga terjadi secara merata di berbagai perangkat.

Penggunaan aplikasi mobile masih menjadi tulang punggung, dengan peningkatan signifikan di iOS yang melonjak 75 persen, dan Android yang naik 31 persen. Sementara itu, penonton yang menikmati tayangan melalui smart tv juga mencatatkan kenaikan 34 persen.

“Ke depan, tantangannya adalah bagaimana seluruh pelaku industri terus berinovasi dan menjaga kualitas agar streaming dapat tumbuh secara berkelanjutan,” tutup Teguh Wicaksono.