Bensin Mahal, Amerika yang Identik sama Muscle Car Beralih ke Listrik
Uzone.id - Bayangkan, negara sekelas Amerika Serikat yang identik dengan mobil-mobil muscle car bermesin besar dan boros BBM, kini mulai pada beralih ke mobil listrik.
Kenaikan harga bahan bakar di Amerika Serikat secara signifikan telah mengubah pertimbangan konsumen dalam memilih mobil, mendorong lonjakan minat pada mobil listrik (EV).
Saat ini, rata-rata harga bensin di AS telah menyentuh angka 4,09 dollar AS per galon (setara Rp 17.195 per liter, dengan asumsi kurs Rp 16.000 per dollar AS). Angka ini mencerminkan kenaikan sebesar 33 persen dibandingkan harga tahun sebelumnya.
Faktor utama yang memicu kenaikan harga ini pada tahun 2026 adalah ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah, termasuk gangguan distribusi minyak global akibat serangan AS-Israel ke Iran.
Kondisi ini kembali menegaskan bahwa biaya penggunaan mobil bensin sangat tidak stabil dan rentan terhadap gejolak global.
Di tengah ketidakpastian harga bensin, biaya kepemilikan kendaraan listrik menawarkan stabilitas yang lebih baik karena tarif listrik cenderung ditentukan oleh faktor-faktor domestik. Perbedaan biaya bulanan ini menjadi daya tarik utama:
- Rata-rata biaya kepemilikan mobil berbahan bakar bensin di AS mencapai 779 dollar AS per bulan (sekitar Rp 12,4 juta).
- Sebagai perbandingan, mobil listrik seperti Hyundai Ioniq 5 dan Chevrolet Equinox EV memiliki biaya kepemilikan bulanan sekitar 464 dollar AS hingga 470 dollar AS (sekitar Rp 7,4 juta hingga Rp 7,5 juta).
Perbandingan ini menunjukkan bahwa konsumen dapat menghemat sekitar 309–315 dollar AS, atau kira-kira Rp 5 juta, setiap bulannya dengan beralih ke EV.
Respon Pasar dan Data Pencarian Tertinggi
Lonjakan harga bahan bakar saat ini sebetulnya merupakan siklus yang berulang. Pengendara di AS telah mengalami kondisi serupa beberapa kali dalam dua dekade terakhir.
Seperti pada tahun 2008 ketika harga bensin mencapai 4,05 dollar AS per galon akibat harga minyak dunia menyentuh 147 dollar AS per barel, dan pada tahun 2022 saat konflik Rusia-Ukraina mendorong harga bensin mencapai 5,01 dollar AS per galon.
Data dari Edmunds menunjukkan lonjakan minat yang dramatis terhadap alternatif elektrifikasi.
Minat terhadap kendaraan elektrifikasi melonjak hingga mencapai 23,8 persen dari total pencarian mobil pada pertengahan Maret 2026, menjadikannya level tertinggi sepanjang tahun.
Bahkan, pencarian khusus untuk mobil listrik meningkat 17 persen hanya dalam satu pekan setelah harga bensin mengalami kenaikan tajam.
Dengan selisih biaya bulanan yang signifikan, tren permintaan untuk mobil listrik diperkirakan akan terus menanjak, terutama jika harga bahan bakar tetap tinggi dalam jangka panjang.
Pilihan pada mobil listrik tidak hanya menawarkan penghematan finansial, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada minyak yang harganya sangat sensitif terhadap kondisi geopolitik global.