Automotive

Belajar dari Tragedi KRL Bekasi: Perlintasan Sebidang Harus Ditiadakan

Brian Priambudi
Belajar dari Tragedi KRL Bekasi: Perlintasan Sebidang Harus Ditiadakan

Uzone.id - Kecelakaan antara KRL Cikarang dengan kereta jarak jauh Argo Bromo Anggrek, dipicu oleh kecelakaan KRL dengan taksi listrik di perlintasan sebidang. Pengamat transportasi mengatakan, seharusnya sudah tidak ada lagi perlintasan sebidang.

Argumen perlintasan sebidang yang harus ditiadakan karena kerap terjadi insiden kecelakaan yang tak sedikit menelan korban jiwa.

Terlebih jika melihat insiden di Bekasi Timur kemarin, perlintasan sebidang ternyata tidak memiliki palang otomatis yang resmi dari PT Kereta Api Indonesia (KAI). Melainkan dijaga oleh warga sekitar saja.

Djoko Setijowarno selaku pengamat transportasi mengatakan, berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Perkertaapian Kementerian Perhubungan, di tahun 2026 tercatat sebanyak 40 kecelakaan terjadi di perlintasan sebidang.

Jika dirinci, mayoritas kecelakaan di perlintasan sebidang terjadi pada yang tidak memiliki palang pintu otomatis resmi hingga mencapai 23 kejadian.



Meskipun sudah memiliki palang pintu otomatis secara resmi, kecelakaan juga cukup banyak hingga mencapai 17 kejadian.

Melihat, menilai, dan belajar dari data kecelakaan tersebut, Djoko berpendapat seharusnya penghapusan perlintasan sebidang di koridor padat harus dipercepat.

"Dengan frekuensi kereta yang tinggi, waktu penutupan perlintasan akan semakin panjang dan berpotensi menimbulkan antrean kendaraan. Dalam kondisi disiplin pengguna jalan yang masih  rendah, risiko pelanggaran dan kecelakaan akan terus meningkat. Oleh karena itu, pembangunan perlintasan tidak sebidang seperti undepass dan overpass perlu menjadi perioritas berbasis risiko," ujar Djoko yang juga menjabat sebagai Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia dalam pesan tertulis ke Uzone.id.

Selain underpass dan overpass, menurut Djoko penataan ruang di sepanjang jalur kereta api juga harus diperkuat ke depannya.





Mengingat aktivitas masyarakat yang tidak terkendali, akses tidak resmi, serta lemahnya penegakkan tata ruang dapat menjadi sumber gangguan serius bagi kereta.

"Diperlukan koordinasi lintas sektor untuk memastikan lingkungan jalur tetap aman dan sesuai peruntukkannya," jelas Djoko.

Djoko pun meminta evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan PT Kereta Api Indonesia bersama regulator.

Menurutnya harus ada pendekatan keselamatan modern yang menekankan bahwa sistem harus mampu mencegah kesalahan berkembang menjadi kecelakaan fatal.




"Bukan sekedar merespons setelah kejadian," ketusnya.

Sebelumnya diberitakan, terjadi kendala pada taksi listrik Green SM saat melintasi perlintasan kereta api di Bekasi Timur.

Kendala tersebut membuat mobil listrik VinFast yang digunakan sebagai armada Green SM mengalami mogok hingga tertemper oleh KRL.

Insiden tersebut membuat KRL dari arah lain harus menunggu dan berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Dalam kurun waktu yang singkat, Kereta Api Argo Bromo Anggrek justru melaju dalam kecepatan tinggi hingga menabrak KRL yang sedang menunggu di Stasiun Bekasi Timur.

Akibat insiden ini, berdasarkan data terbaru yang beredar, menunjukkan korban meninggal dunia mencapai 15 orang.

Sementara itu masih terdapat puluhan korban lain yang mengalami luka-luka. Korban yang meninggal dunia dilaporkan berjenis kelamin perempuan karena berada di gerbong paling belakang.