Govtech

Bekasi Kota Paling Beracun Kedua Dunia, Bantargebang Penyebabnya

Vina Insyani
Bekasi  Kota Paling Beracun Kedua Dunia, Bantargebang Penyebabnya

Uzone.id Sebuah laporan yang dikeluarkan oleh Institut Emmet Fakultas Hukum UCLA (University pf California Los Angeles) mengungkap fakta bahwa TPA (Tempat Penampungan Akhir) Bantargebang di Bekasi berada di posisi kedua sebagai lokasi pembuangan sampah yang memiliki emisi metana paling tinggi sepanjang 2025 kemarin.

Bantargebang masuk dalam daftar 25 TPA di dunia yang menghasilkan emisi metana tertinggi kedua yaitu sebanyak 6,3 ton emisi per jamnya. Hanya kalah dari TPA Campo de Mayo di Argentina yang menghasilkan sebanyak 7,6 ton emisi metana per jamnya.

Selain Bantargebang, ada juga TPA dari Asia Tenggara lainnya yaitu Jeram dari Kuala Lumpur (ke-3), Kamphaeng Saen dari Bangkok (ke-8) dan juga Rodriguez dari Manila (ke-14) yang masuk dalam daftar ini.






25 lokasi pembuangan sampah (landfill) ini tercatat emisi metana tertinggi sepanjang 2025, data ini merupakan hasil dari pengamatan satelit Tanager-1 milik Planet Labs dan instrumen EMIT di ISS NASA.


Foto: Bantargebang, Bekasi (Dok. InfoBekasi)
Foto: Bantargebang, Bekasi (Dok. InfoBekasi)

“Meskipun banyak tempat pembuangan akhir yang mengeluarkan puluhan kilogram metana per jam, lokasi-lokasi yang masuk dalam daftar “25 teratas” kami mengeluarkan metana jauh lebih banyak – berkisar antara 3,6 hingga sekitar 7,5 ton metrik metana per jam,” tulis situs tersebut.

Selain 25 TPA yang memiliki emisi metana tertinggi, mereka mendeteksi ada lebih dari 2.994 semburan gas (plumes) dari 707 lokasi di berbagai negara dan bahkan ada lokasi yang memiliki emisi lebih tinggi lagi.

UCLA mencatat bahwa dampak dari metana yang dihasilkan TPA dengan emisi sekitar 5 ton/jam bisa setara dengan emisi 1 juta SUV atau satu PLTU besar dalam setahun.

“Sebuah tempat pembuangan akhir yang mengeluarkan 5 ton metana per jam akan berkontribusi terhadap pemanasan global sebanyak satu juta mobil SUV atau satu pembangkit listrik tenaga batu bara berkapasitas besar (500 megawatt),” kata laporan tesebut.






Dalam laporan ini juga terdapat kolom berjudul operator yang berpotensi bertanggung jawab akan lokasi-lokasi tersebut. Di TPA Bantargebang, pemerintah provinsi (Pemprov) Jakarta disebut sebagai operator yang berpotensi bertanggung jawab akan kondisi lokasi ini. 

Daya tampung TPA Bantargebang sendiri dilaporkan akan habis dalam waktu dekat jika masih mengandalkan penimbunan konvensional. Beban harian TPA Bantargebang terhitung menerima rata-rata 7.354 ton sampah per harinya dari seluruh kota/kabupaten di Jakarta.

Bahaya dari emisi metana ini tidak bisa dianggap sepele karena memiliki dampak langsung pada kerusakan Bumi dan juga pada kesehatan masyarakat. 

Salah satunya, dalam rentang waktu 20 tahun, metana memiliki potensi pemanasan global (Global Warming Potential/GWP) sekitar 80 kali lebih kuat dibandingkan karbon dioksida.

Meski secara tak langsung meracuni manusia, namun metana menjadi bahan baku utama pembentukan Ozon Troposfer yang menyebabkan penyakit pada paru hingga kematian dini.