Automotive

BBM Etanol Gak Bikin Mesin Karatan? Ini Klaim Pertamina

Brian Priambudi
BBM Etanol Gak Bikin Mesin Karatan? Ini Klaim Pertamina

Uzone.id - Pertamina menjadi satu-satunya produsen BBM yang sudah menjual produk dengan kandungan etanol sebesar 5 persen pada Pertamax Green 95. Perusahaan BUMN itu juga memastikan kalau bensin etanol miliknya sudah anti karat.

Pertamax Green 95 memiliki kandungan 5 persen bioetanol alias E5 yang sudah dipasarkan sejak 2 tahun terakhir. Kini produk tersebut bahkan sudah tersedia di 163 SPBU di Pulau Jawa yang bisa ditemukan di Jakarta, Bogor, Depok, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Mars Ega Legowo selaku Direktur Utama Pertamina Patra Niaga menyebutkan pihaknya memahami produk baru terkandung etanol perlu edukasi kepada masyarakat.

"Kami memahami bahwa dalam memasarkan varian abru perlu waktu untuk edukasi kepada masyarakat atas manfaat dari Bioetanol, selain emisi yang dihasilkan lebih ramah lingkungan, produk ini juga mempunyai karakteristik akselerasi yang baik," ujar Mars dalam keterangan resminya.

Mars menjelaskan konsumen tidak perlu khawatir pada BBM dengan bioetanol, menurutnya di bensin Pertamax Series terdapat aditif yang memiliki fungsi untuk mengurangi efek korosi alias karat.



Selain itu, juga terdapat aditif demulsifier yang mengurai kontaminasi air, sehingga bisa mengantisipasi faktor-faktor yang dapat mengganggu performa mesin.

Edukasi lain juga datang dari Pusat Kajian Ketahanan Energi untuk Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (Puskep UI) yang menyatakan kandungan etanol untuk BBM lazim dilakukan di luar negeri.

Beberapa negara sudah menerapkan etanol dengan kandungan mulai dari 5 persen, 8 persen, dan 10 persen. Bahkan dianggap kandungan tersebut positif untuk lingkungan karena mengurangi emisi karbon.





Ïtu sudah lazim dipakai dan berpengaruh sangat baik untuk lingkungan, mereduksi emisi karbon, di Eropa mereka biasa gunakan 5-8 persen. Di Amerika dan Australia begitu juga. Karena ada beberapa tujuan lain, tidak semata-mata kepentingan bisnis, namun agar mengurangi minyak dan fosil," ujar Direktur Eksekutif Puskep UI Ali Ahmudi di Jakarta seperti dikutip dari Antara.

Menurut Ali, perusahaan energi dari berbagai negara juga pasti menginginkan transisi energi yang lebih bersih, salah satunya dengan menggunakan BBM ramah lingkungan.

Seorang Dosen dari Jurusan Rekayasa Minyak dan Gas Institut Teknologi Sumatera, Muhammad Rifqi Dwi Septian juga punya padnangan yang sama.



Menurut Rifqi, etanol memiliki dampak positif terhadap performa mesin, dengan kandungan oksigen yang tinggi dianggap mampu membuat pembakaran menjadi lebih sempurna.

"Itu membuat kadar karbon monoksida dan hidrokarbon tidak terbakar bisa berkurang, artinya lebih ramah lingkungan," pungkasnya.

Perlu diketahui, sebelumnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mewajibkan BBM dengan kandungan etanol 10 persen alias E10 di 2026.

Bahkan Bahlil mengaku Presiden Prabowo sudah meneyetujui mandatori campuran etanol 10 persen untuk BBM.

Alasan kebijakan ini diterapkan adalah untuk mengurangi emisi karbon serta ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM.