Digilife

Baru Rilis Seedance 2.0, ByteDance Langsung Diamuk Hollywood

Muhammad Faisal Hadi Putra
Baru Rilis Seedance 2.0, ByteDance Langsung Diamuk Hollywood

Uzone.id - Seedance 2.0, platform pembuat video pendek berbasis AI buatan ByteDance, memicu protes keras dari industri film, terutama studio-studio kenamaan Hollywood. Pertama kali dirilis pada 12 Februari lalu, pesaing Sora dari OpenAI ini dituduh melakukan pelanggaran hak cipta secara masif dan tanpa izin.

Motion Picture Association atau Asosiasi Industri Film (MPA) yang mewakili Warner Bros Discovery, Paramount, Netflix, dan studio besar lainnya, mengeluarkan pernyataan keras yang mendesak ByteDance untuk segera menghentikan aktivitas ilegal tersebut.

“Dalam satu hari, layanan AI China Seedance 2.0 telah terlibat dalam penggunaan karya berhak cipta AS secara tidak sah dalam skala besar,” kata ketua dan CEO MPA, Charles Rivkin, dikutip dari Variety.

Menurut Rivkin, ByteDance nekat meluncurkan layanan tanpa sistem perlindungan hak cipta yang jelas. Langkah ini dianggap mengabaikan undang-undang hak cipta yang selama ini melindungi jutaan pekerja di industri kreatif Amerika Serikat (AS).





Protes keras juga dilayangkan langsung oleh studi-studio besar Hollywood. Disney salah satunya, menuding ByteDance melakukan ‘virtual smash-and-grab’ atau perampokan virtual terhadap kekayaan intelektual (IP) milik Disney. 

Disney menilai, Seedance dengan gampang memakai aset berharga mereka seperti karakter Marvel dan Star Wars layaknya gambar klik gratisan. 

Paramount dan Sony Pictures juga mengambil langkah serupa. Keduanya menuntut ByteDance segera menghapus IP mereka dari data pelatihan Seedance. 

IP yang dimaksud termasuk judul-judul raksasa seperti SpongeBob SquarePants, Avatar: The Last Airbender, Star Trek, Breaking Bad, hingga Spider-Verse. Netflix bahkan tak segan mengancam bakal menempuh jalur hukum.

Kecaman dari para pekerja industri kreatif


Cuplikan video pendek yang diduga buatan Seedance
Cuplikan video pendek yang diduga buatan Seedance


Protes keras bukan saja datang dari studio besar Hollywood, tapi juga serikat pekerja. Screen Actors Guild – American Federation of Television and Radio Artists (SAG-AFTRA) memprotes keras penggunaan kemiripan suara dan wajah aktor tanpa izin yang jelas mengancam mata pencaharian mereka. 

“Ini tidak dapat diterima dan merusak kemampuan bakat manusia untuk mencari nafkah,” tegas perwakilan SAG-AFTRA.

Kekhawatiran ini memang beralasan. Seedance 2.0 memungkinkan penggunanya membuat video pendek berdurasi 15 detik hanya lewat ketikan saja. 

Salah satu contoh yang sempat viral adalah video yang diunggah pembuat film dan seniman VFX, Rauiri Robinson.

Ia membagikan video yang menampilkan sosok Tom Cruise berkelahi dengan Brad Pitt di atas jembatan yang hancur. Ya, video tersebut dibuat hanya bermodalkan perintah teks dua baris di Seedance 2.0.



Video lain yang beredar secara online yang diduga dibuat dengan AI ByteDance tersebut termasuk karakter Star Wars Anakin Skywalker dan Rey yang terlibat dalam pertarungan lightsaber, dan Spider-Man yang bertarung melawan Captain America di New York.

Merespon video Tom Cruise dan Brad Pitt yang viral di X (dulunya Twitter), penulis skenario film Deadpool, Rhett Reese, mengungkapkan kengeriannya. Ia menulis, “Saya benci mengatakannya. Kemungkinan besar ini sudah berakhir bagi kami.”

Di sisi lain, anggota parlemen Inggris, Beeban Kidron, mendesak perusahaan AI untuk segera membuat kesepakatan dengan industri kreatif. Kalau dibiarkan terus, seperti dikutip dari The Guardian, mungkin bakal terjadi banyak gugatan hukum selama 10 tahun ke depan yang bisa menghancurkan industri itu sendiri.





“Tampaknya bagi saya bahwa sektor AI perlu datang ke meja perundingan dengan "penawaran nyata" yang memuaskan industri kreatif. Jika tidak, kita akan mengalami satu dekade litigasi dan kehancuran industri yang sangat mereka andalkan,” katanya.

Di sisi ByteDance, mereka telah memberikan pernyataan resminya. Kepada BBC, perusahaan mengklaim bahwa mereka tetap menghormati hak cipta. 

Mereka beralasan, konten yang beredar dibuat pada fase pengujian terbatas sebelum peluncuran. ByteDance juga berjanji sedang memperketat perlindungan dan untuk sementara sudah memblokir fitur unggah foto orang asli.

Akan tetapi, niat Hollywood untuk menyeret ByteDance ke meja hijau sepertinya bakal tersendat masalah birokrasi. Berkaca dari kasus gugatan terhadap perusahaan AI asal China lainnya seperti MiniMax, pengiriman dokumen hukum lintas negara lewat regulasi Konvensi Den Haag bisa memakan waktu sangat lama, yakni sekitar 18 hingga 24 bulan.