Banyak Anak Dijadikan Konten di Media Sosial, Hati-hati Risikonya
Uzone.id—
Fenomena “sharenting” atau kebiasaan orang tua membagikan foto, video, hingga
aktivitas anak-anak di media sosial seperti TikTok hingga YouTube semakin umum
terjadi saat ini, apalagi saat ini muncul istilah seperti ‘keponakan online’
yang menjadi hasil dari banyaknya orang tua yang benar-benar menjadikan anak
mereka sebagai bagian dari konten di media sosial.
Meski dianggap sebagai cara untuk berbagi momen dan
membangun komunitas sesama orang tua, tindakan ini ternyata menyimpan risiko
privasi yang cukup serius bagi anak-anak.
Hal ini diungkap dalam riset terbaru Kaspersky bersama Singapore Institute of Technology (SIT) berjudul “Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children’s Data”, dimana survei ini diambil di beberapa negara seperti Hong Kong, Mesir, India, Indonesia, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, dan Vietnam.
Penelitian ini fokus pada bagaimana orang tua menilai
ancaman privasi digital terhadap anak-anak sekaligus kesiapan mereka dalam
melindungi data pribadi anak di internet.
Hasilnya, penelitian ini menunjukkan bahwa rasa percaya diri
orang tua menjadi faktor utama dalam menentukan seberapa baik mereka melindungi
privasi anak saat menggunakan media sosial.
Untungnya, sebagian besar orang tua mengaku cukup memahami
langkah-langkah perlindungan digital termasuk untuk anak-anak mereka.
Sebanyak 85 persen orang tua menyatakan mampu menghindari
membagikan informasi sensitif seperti tanggal lahir, alamat, atau sekolah anak.
Persentase yang sama juga mengaku
menghindari unggahan yang berpotensi mempermalukan anak di masa depan.
Selain itu, 84
persen responden membatasi akses unggahan hanya untuk keluarga dan teman dekat,
sementara 83 persen mengaku tidak membagikan detail pribadi yang mudah
diidentifikasi.
Tak hanya itu, sekitar 80 persen orang tua juga menghapus
izin repost dan menonaktifkan metadata maupun geotagging untuk
mencegah penyebaran lokasi atau informasi tersembunyi dari foto dan video yang
diunggah.
Menurut Senior Manager Cyber Safety Education Kaspersky Asia Pasifik, Trisha Octaviano, semakin bertambah usia orang tua, biasanya kesadaran terhadap risiko digital juga ikut meningkat.
“Seiring bertambahnya usia, orang tua cenderung lebih memahami ancaman dan kerentanan baik online maupun offline, sehingga lebih proaktif dalam melindungi anak,” jelasnya dalam keterangan yang diterima Uzone.id.
Penelitian juga menemukan adanya perbedaan perilaku antara
ibu dan ayah dimana Ibu dinilai lebih berhati-hati dalam membagikan konten anak
di media sosial dibanding ayah.
Mereka lebih percaya bahwa pengaturan privasi dan langkah
keamanan digital dapat membantu melindungi anak dari risiko online.
Risiko berbagi konten anak-anak di media sosial
Di sisi lain, Kaspersky mengingatkan bahwa ancaman dari sharenting
tidak bisa dianggap sepele.
Informasi yang dibagikan orang tua bisa dimanfaatkan pihak
tidak bertanggung jawab untuk profiling, pelacakan, hingga penyalahgunaan
identitas anak.
Karena itu, para peneliti menyarankan orang tua untuk rutin
memeriksa pengaturan privasi media sosial, menghapus akun lama yang tidak
digunakan, menghindari membagikan lokasi anak secara detail, hingga berdiskusi
dengan anak mengenai batasan informasi yang boleh dibagikan di internet.
Jangan lupa untuk selalu meninjau jaringan kontak, aktivitas
masa lalu, dan visibilitas profil sebelum membagikan konten mengenai anak-anak,
dan pikirkan kembali secara matang apakah informasi/yang dibagikan bisa menjadi
boomerang di kemudian hari atau tidak.
Selalu berhati-hati dan tidak sembarangan mengungkapkan
geolokasi dalam unggahan dan hapus metadata dari file foto.
Kaspersky juga menyarankan penggunaan aplikasi parental
control untuk membantu memantau aktivitas digital anak sekaligus menjaga
keamanan data pribadi mereka di dunia maya.