Digilife

Banjir Kepung Sumatera, Google Maps Tampilkan Peta Flood Alert

Muhammad Faisal Hadi Putra
Banjir Kepung Sumatera, Google Maps Tampilkan Peta Flood Alert

Uzone.id - Google menampilkan pesan flood alert atau peringatan darurat terkait banjir yang menimpa wilayah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Peringatan ini muncul saat pengguna mencari informasi dengan kata kunci terkait banjir, seperti ‘Banjir Aceh’, ‘Banjir Sibolga’, Banjir Sumut’, ‘Banjir Tapanuli’, dan lainnya. 

Dari pantauan kami pada Sabtu (29/11), saat mencari kata kunci ‘Banjir Aceh’ misalnya, pesan flood alert menampilkan ikon peringatan berwarna merah, diikuti dengan berita-berita tentang kata kunci yang dicari, serta titik-titik lokasi yang terdampak pada bagian General Info. 

Saat tombol View Map di bawahnya ditekan, akan langsung dialihkan ke halaman Google Maps dengan titik-titik banjir yang ditandai secara spesifik dengan ikon merah bergelombang sebagai sinyal lokasi darurat. 



Selain peta, Google juga menampilkan tautan cepat ke menu bantuan dan informasi yang merujuk langsung ke sumber resmi seperti situs BMKG, situs BNPB, hingga update pada media sosial resmi lembaga terkait, seperti Facebook dan X.

Peringatan flood alert merupakan bagian dari sistem Google SOS Alert. Sistem ini bekerja dengan mengagregasi data dari instansi pemerintah, berita media yang kredibel, hingga laporan langsung dari pengguna di Waze dan Google Maps. Selain banjir, sistem ini sebenarnya juga mencakup peringatan kebakaran hutan dan gelombang panas.

Informasi yang muncul bukan saja berupa peta terdampak saja, tapi bisa juga nomor darurat yang dapat dihubungi, situs resmi lembaga yang menangani bencana, hingga opsi donasi yang tergantung lokasi pengguna. 

Di fitur ini, ada juga tombol berbagi yang memungkinkan pengguna untuk meneruskan info titik darurat ke WhatsApp atau media sosial dengan cepat, tanpa perlu mengambil screenshot terlebih dahulu.




Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan sekitarnya sejak 24 November, bukan hanya akibat curah hujan ekstrem. Pakar menyebut, bencana besar ini disebabkan 3 faktor utama, kondisi atmosfer yang sangat aktif, kerusakan lingkungan yang menurunkan daya resap tanah, dan melemahnya kapasitas tampung wilayah.