Banjir jadi 'Agenda' Tahunan, Sistem Peringatan Baru Disiapkan
Uzone.id — Di tengah krisis dan duka yang melanda beberapa wilayah Sumatra pasca banjir besar yang terjadi, Kementerian Perhutanan (Kemenhut) kembali menegaskan rencana pengembangan sistem peringatan dini (early warning system / EWS) yang ditujukan untuk memantau potensi bencana di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) di seluruh Indonesia. Inisiatif ini dilakukan bekerja sama dengan BMKG dan BNPB.
Menurut Wakil Menteri Kehutanan, Rohmat Marzuki belum lama ini, sistem EWS akan membantu memetakan DAS, memantau tutupan lahan, kondisi hulu sungai, dan endapan sedimen.
Data tersebut kemudian akan dikombinasikan dengan informasi curah hujan dan cuaca dari BMKG, serta disinkronisasi dengan BNPB untuk peringatan dini kepada masyarakat dan pemerintah daerah.
“Kita bisa memprediksi bahwa DAS-DAS ini punya potensi banjir besar, sedang, atau kecil,” ujar Rohmat mengutip berbagai sumber.
Ia berharap lewat aplikasi tersebut, warga dari desa hingga pemerintah kecamatan bisa mendapatkan informasi lebih cepat dan jelas.
Sistem ini diharapkan dapat memberikan gambaran kondisi sungai dan DAS secara real time, menjadi dasar bagi pengambilan keputusan cepat dalam mitigasi dan evakuasi jika diperlukan.
Upaya ini datang di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem dan potensi bencana terkait iklim, sesuatu yang juga tengah jadi fokus BMKG.
BMKG sendiri sejak Juli 2025 menyatakan bahwa mereka terus mengembangkan sistem peringatan dini untuk cuaca, iklim, dan bencana sebagai bagian dari adaptasi menghadapi perubahan iklim dan dinamika lingkungan.
Mengapa baru sekarang?
Banjir dahsyat di Sumatra kali ini bukan cuma soal curah hujan ekstrem, tapi juga akibat kerusakan ekologis di hulu. Tutupan hutan menipis, vegetasi sebagai penyangga ekosistem sungai tergerus, sistem hidrologis melemah.
Padahal, ketika hulu sudah rusak, cuaca ekstrem hanyalah pemicu. Intensitas hujan normal pun bisa memicu kejadian besar jika penyangga alam sudah hilang. Dan efek domino itu terasa di hilir: sungai meluap, permukiman tenggelam, kehidupan terguncang.
Dari beberapa klaim pakar dan peneliti, karena dampak dari kerusakan ekologis ini baru terasa dalam skala besar belakangan, maka dorongan untuk memiliki sistem dini yang terintegrasi baru sekarang dianggap mendesak.

Selain itu, menurut evaluasi pasca-bencana, meskipun secara formal sistem “institusi mitigasi dan peringatan” sudah ada, kenyataannya banyak daerah tidak memiliki peta risiko terbaru, jalur evakuasi tidak jelas, logistik darurat lambat, dan peringatan tidak sampai ke masyarakat, terutama di wilayah terpencil.
Dengan demikian, EWS berbasis DAS tidak sekadar pelengkap, melainkan upaya minimal untuk memberi peringatan sebelum tragedi terulang.
EWS diharapkan dapat menggabungkan data hulu (lulut lahan, DAS), data meteorologi (curah hujan, iklim), dan kesiapan masyarakat/pemerintah daerah. Ini jadi modal penting bagi Indonesia dalam menghadapi musim hujan ekstrem, banjir, dan bencana hidrometeorologi lainnya.
Tantangan Kemenhut
Sementara menggarap sistem EWS untuk DAS, Kemenhut juga aktif memperkuat pemantauan hutan, terutama untuk pencegahan deforestasi lewat sistem monitoring digital.
Mengutip beberapa sumber, sebagai contoh, lewat aplikasi Simontana (Sistem Monitoring Hutan Nasional) yang mendeteksi perubahan tutupan lahan setiap tiga bulan. Meski berbeda fokus (deforestasi vs DAS-banjir), langkah ini menunjukkan pendekatan holistik Kemenhut terhadap manajemen hutan dan lingkungan.
Namun demikian, tantangan tetap ada: pemanfaatan lahan, alih fungsi kawasan, dan tutupan lahan di sekitar DAS / hulu sungai perlu pengawasan ketat, sebab kondisi ini bisa memperburuk risiko banjir.
Kalau berhasil, EWS untuk DAS bisa memberi peringatan dini kepada masyarakat desa, kecamatan, pemerintah daerah, dan stakeholder lokal, serta memungkinkan evakuasi dan mitigasi lebih cepat.
Hingga laporan terakhir, program EWS untuk DAS ini masih dalam tahap pengembangan perencanaan kolaboratif antara Kemenhut, BMKG, dan BNPB. Belum ada pengumuman resmi bahwa aplikasi telah diluncurkan dan tersedia untuk publik.