Automotive

Bahlil: Selat Hormuz Ditutup, Stok BBM di RI Cuma 20 Hari ke Depan

Bagja Pratama
Bahlil: Selat Hormuz Ditutup, Stok BBM di RI Cuma  20 Hari ke Depan

Uzone.id - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah telah mencapai titik didih yang berdampak langsung pada pasar energi dunia, termasuk Indonesia yang masih sangat ketergantungan dengan impor BBM.

Menyusul eskalasi konflik militer antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, Selat Hormuz dilaporkan ditutup, memicu lonjakan drastis pada harga minyak mentah global.



Selat Hormuz, jalur laut strategis yang terletak antara Iran dan Oman, dikenal sebagai salah satu choke point distribusi energi paling krusial di dunia. 

Lebih dari 20 persen pasokan minyak mentah global melewati wilayah ini setiap harinya. Penutupan jalur vital ini seketika memicu kecemasan besar terhadap ketersediaan pasokan minyak.

Kekhawatiran pasar segera tercermin pada harga komoditas. Berdasarkan laporan pasar energi internasional, harga minyak acuan global, Brent Crude Oil, melonjak sekitar 10 persen. 

Pada perdagangan over-the-counter hari Minggu, harga minyak tercatat mendekati 80 Dolar AS per barel (setara Rp1,3 jutaan), sebuah kenaikan signifikan hanya berselang beberapa hari setelah mencapai 73 Dolar AS per barel pada Jumat sebelumnya, yang merupakan level tertinggi sejak Juli 2025.

Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla (JK), turut angkat bicara, memperingatkan bahwa konflik tersebut hampir pasti akan memicu kenaikan harga minyak dunia dan berpotensi menyebabkan kelangkaan bahan bakar di Indonesia. 

JK menegaskan bahwa gangguan pada jalur distribusi dan impor minyak dari Timur Tengah yang selama ini menjadi andalan Indonesia untuk memenuhi kebutuhan domestik, tidak terhindarkan.



Kondisi Ketahanan Energi Domestik

Di tengah gejolak global, kondisi stok Bahan Bakar Minyak (BBM) Indonesia menjadi perhatian utama. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengonfirmasi bahwa stok BBM nasional saat ini hanya cukup untuk 20 hari ke depan.

Ketersediaan stok yang relatif minim ini memunculkan kekhawatiran serius akan potensi terjadinya kelangkaan atau kenaikan harga BBM yang tajam di pasar domestik, segera setelah stok yang ada habis terpakai.

Mengingat tipisnya ketahanan energi saat ini, Menteri Bahlil menyatakan akan segera mengambil langkah antisipatif, meskipun saat ini situasi masih terkendali. 

"Masih cukup 20 hari. Nanti besok (Selasa, 3 Maret 2026) Insyaallah saya rapat di ESDM, kami akan rapat Dewan Energi Nasional," ujar Bahlil kepada media, dikutip Uzone.id

Ia menambahkan bahwa rapat ini penting dilakukan sebagai langkah koreksi dan mitigasi terhadap potensi dampak global dari memanasnya kondisi geopolitik di Timur Tengah.