Ramadan Lyfe

Aturan Penggunaan Toa Masjid, Untuk Bangunkan Sahur?

By Vina Insyani

Uzone.id -Membangunkan sahur pada saat bulan ramadhan lewat pengeras suara memang menjadi salah satu rutinitas masyarakat di beberapa daerah di Indonesia, tetapi tak sedikit orang-orang yang terganggu ketika ‘ajakan’ ini disalahgunakan dan melenceng dari yang seharusnya.

Baru-baru ini, Zaskia Adya Mecca, selebriti kenamaan Indonesia mengkritik cara orang membangunkan sahur dengan pengeras suara masjid atau Toa lewat sosial media Instagram.

Ia mengunggah sebuah video pada 22 April 2021 dengan caption “... cuma mau nanya ini bangunin model gini lagi HITS katanya?! Trus etis ga si pake toa masjid bangunin model gini?? Apalagi kita tinggal di Indonesia yang agamanya pun beragam. Apa iya dengan begini jadi tidak mengganggu yang lain tidak menjalankan Shaur?!” tulis Zaskia pada postingannya.

Beneran bingung ini masjid deket rumah.. pas aku aga kaget2 denger di hari pertama, lingkungan pada bilang ‘lagi hits bangunin model gitu..’ aku yang asing, atau situasi yang semakin asing yaa.. buatku kok ngga lucu, ga etis, gak menghargai orang lain. Buat kamu gmn?! Apa aku yang terlalu serius?” lanjutnya disertai video berisi suara nyaring Mimi Peri yang digunakan untuk membangunkan sahur.

Karena unggahan ini, banyak netizen memberikan pendapat mereka masing-masing. Ada yang pro dan ada juga yang kontra. Sebagian mengatakan bahwa mereka juga merasa terganggu karena rutinitas tersebut, sebagian lagi mengatakan jika cara ini membantu dan sudah menjadi ciri khas ketika bulan ramadhan tiba.

Meski membangunkan sahur ketika bulan puasa sudah menjadi bagian dari kebiasaan pada bulan suci ramadhan, namun tetap saja ada adab dan aturan yang harus diperhatikan agar tidak menimbulkan kemudharatan (masalah).

Penggunaan Toa masjid sendiri sudah diatur oleh Kemenag lewat Instruksi Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978. Aturan ini mengatakan jika pengeras suara keluar hanya digunakan untuk mengumandangkan adzan, sedangkan untuk doa, shalat dan dzikir dilakukan dengan pengeras suara dalam ruangan masjid.

Pada zaman Rasulullah SAW sendiri, tradisi membangunkan sahur dilakukan dengan cara mengumandangkan 2 kali adzan.

Sebuah hadis mengatakan, “sesungguhnya Bilal melakukan azan di malam hari (sebelum subuh). Makan dan minum lah kalian, sampai Ibnu Ummi Maktum Azan.” (HR. Muslim 1092).

“Jadi pada zaman nabi itu, sebelum masuk waktu fajar, Bilal bin Rabah mengumandangkan azan. Setelah itu, ia berzikir sampai fajar tiba. Saat fajar tiba, ia turun dari menara dan memberitahukan Abdullah bin Ummi Maktum untuk azan,” jelas Ustaz M Arsyad Haikal, dikutip Uzone.id dari KompasTV.