Ancaman Siber Meningkat, 58 Persen Perusahaan RI Bangun SOC
Uzone.id — Meningkatnya
ancaman siber di Indonesia mendorong banyak perusahaan untuk membangun Security
Operations Center (SOC). Unit khusus ini memiliki tugas untuk memperkuat
keamanan siber, mempercepat deteksi dan respons insiden, serta membantu
perusahaan tetap kompetitif.
Dalam laporan terbaru dari Kaspersky, hasil penelitian
menunjukkan bahwa 50 persen perusahaan di seluruh dunia berniat membangun SOC
terutama untuk memperkuat keamanan siber mereka.
Untuk Indonesia, angka tersebut malah lebih tinggi lagi
dimana lebih dari setengahnya atau sekitar 58 persen perusahaan percaya bahwa
membangun SOC dapat meningkatkan tingkat keamanan siber mereka.
Tingginya angka tersebut dijelaskan oleh Adrian Hia selaku Managing Director untuk Asia Pasifik Kaspersky.
“Data terbaru kami menunjukkan bahwa Indonesia adalah salah
satu wilayah yang paling rentan terhadap ancaman siber canggih, mulai dari APT
hingga ransomware. Insiden besar seperti serangan ransomware yang melumpuhkan
lembaga penting hingga berdampak pada ratusan lembaga pemerintah dan layanan
publik menyoroti bahwa kerentanan dalam deteksi dan respons dini dapat
mengakibatkan gangguan layanan yang meluas,” katanya.
Dengan demikian, Adrian mengimbau bahwa membangun SOC sangat
penting bagi organisasi modern termasuk di Indonesia. Tanpa SOC yang efektif,
organisasi kemungkinan akan kesulitan mengatasi serangan yang terus meningkat
baik dalam jumlah maupun kompleksitasnya.
SOC sendiri merupakan unit organisasi yang bertugas memantau
dan mengamankan infrastruktur teknologi informasi (TI) perusahaan secara
terus-menerus. Perannya mencakup deteksi dini, analisis, hingga respons
terhadap berbagai ancaman siber yang semakin kompleks.
Sebanyak 40 persen perusahaan mengungkapkan bahwa hadirnya
SOC ini didorong untuk melindungi informasi rahasia dengan lebih baik, 39
persen lainnya bertujuan memenuhi regulasi, dan 33 persen perusahaan berharap
SOC dapat memberikan keunggulan yang kompetitif.
Pembentukan SOC di lingkungan perusahaan menonjolkan pemantauan keamanan 24/7. Pemantauan berkelanjutan ini memungkinkan deteksi dini anomali dan mencegah insiden berkembang menjadi lebih besar.
Di Indonesia, 60 persen setuju bahwa tugas analisis dan
investigasi insiden dapat didelegasikan ke SOC. Meskipun SOC menggunakan
teknologi canggih, keahlian manusia tetap menjadi faktor kunci dalam hal ini.
Menurut Kaspersky, solusi dan teknologi yang ada tidak akan
berjalan maksimal dan sangat bergantung pada profesional keamanan yang terampil
yang memberikan konteks penting, menafsirkan temuan kompleks, dan membuat
keputusan akhir dalam memandu respons tepat.
Hal ini pun disampaikan oleh Roman Nazarov, Kepala
Konsultasi SOC di Kaspersky. Menurutnya, untuk berhasil membangun SOC,
perusahaan harus memprioritaskan tidak hanya perpaduan teknologi yang tepat
tetapi juga perencanaan proses yang cermat, penetapan tujuan jelas, dan
distribusi sumber daya yang efektif.
“Alur kerja yang terdefinisi dengan baik dan peningkatan
berkelanjutan sangat penting untuk memastikan bahwa analis manusia dapat fokus
pada tugas-tugas penting, menjadikan SOC sebagai komponen proaktif dan adaptif
dari strategi keamanan siber mereka,” tambahnya,