Digilife

AI Bubble: Lonjakan Valuasi AI yang Bikin Investor Was-Was

Aisyah Banowati
AI Bubble: Lonjakan Valuasi AI yang Bikin Investor Was-Was

Uzone.id – Pembicaraan mengenai AI Bubble atau gelembung AI tengah menarik perhatian. Para pakar ekonomi dan investor mulai mengungkapkan kekhawatiran mereka akan terjadinya AI Bubble.

AI Bubble sendiri adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika teknologi AI dianggap “sangat hebat” sehingga membuat nilai perusahaan dan investasinya naik.

Masalah akan muncul ketika kenyataan di lapangan tidak sesuai dengan ekspektasi. Jika teknologi AI yang digembor-gemborkan tersebut tidak berkembang secepat yang dibayangkan, atau tidak menghasilkan keuntungan seperti yang dijanjikan, maka “gelembung” bisa saja pecah.

Nilai perusahaan dapat menurun drastis, investor akan mengalami kerugian besar, dan dampaknya juga bisa menyebar ke sektor ekonomi lain yang lebih luas.





Apakah kita tengah mengalami AI Bubble?

CEO Nvidia, Jensen Huang, hadir sebagai salah satu tamu di US-Saudi Investment Forum 2025. Ketika ditanya mengenai "Apakah kita akan mengalami AI Bubble?", ini adalah jawabannya.

Pertama-tama, Jensen Huang menjelaskan mengenai Hukum Moore yang dianggapnya sudah berakhir. Hukum Moore sendiri adalah aturan lama yang mengatakan bahwa kekuatan komputasi akan terus meningkat dua kali lipat setiap dua tahun dengan biaya relatif sama.

Menurut Jensen aturan ini tidak lagi berlaku sebab kebutuhan akan komputasi benar-benar melonjak dan CPU tidak lagi cukup. Industri telah beralih ke bentuk komputasi yang lebih efisien seperti GPU.

Kedua, AI Generatif sebenarnya sudah ada sejak lama. AI Generatif bukan hanya chatbot seperti yang orang-orang kira selama ini, tetapi juga termasuk sistem rekomendasi recsys/rexis yang Jensen Huang sebut sebagai mesin penggerak internet modern.

Dan terakhir, adalah AI Agent seperti Grok, OpenAI, Anthropic, dan Gemini.

AI Agent sendiri adalah teknologi AI yang sudah jauh lebih berkembang, sebab AI Agent dapat mengambil keputusan, menjalankan tugas kompleks, dan bekerja sebagai asisten digital yang cerdas.

Jika dahulu semua pemrosesan berhasil dilakukan oleh CPU, kini komputasi telah beralih ke GPU yang terbukti lebih unggul dalam mengerjakan tugas-tugas AI.

Meski tidak menyebutkannya secara lugas, dapat disimpulkan jika Jensen Huang menganggap jika lonjakan AI yang terjadi saat ini bukanlah fenomena AI Bubble, melainkan respons terhadap kebutuhan komputasi raksasa yang memang sudah ada sejak lama.

Tonton videonya di sini.





Dari mana kekhawatiran ini berasal?

CNBC memprediksi pengeluaran global untuk AI akan mencapai USD500 miliar atau sekitar Rp8.350 triliun pada akhir 2026. Diproyeksikan bahwa pada tahun 2030, dibutuhkan sekitar USD2 triliun per tahun untuk mendukung pembangunan infrastruktur AI.

Angka tersebut melebihi gabungan pendapatan Microsoft, Meta, Nvidia, dan Alphabet di tahun 2024. Ini adalah awalan yang harus dikeluarkan untuk membangun revolusi industri keempat.

Dalam wawancara bersama CNBC, Dan Ives selaku Direktur Pelaksana Global Tech Research Wedbush Securities, mengungkapkan bahwa perusahaan teknologi besar saat ini sedang melakukan hal yang setara dengan membangun Las Vegas di tahun 1950-an atau membangun Dubai 30 tahun lalu.

“Itulah yang terjadi dengan pembangunan infrastruktur AI ini. Mulai dari chip, pusat data, hingga jaringan listrik. Anda benar-benar membangun ekonomi masa depan untuk konsumen dan perusahaan,” ungkap Dan Ives.

Namun, banyak investor mulai khawatir ke mana arah investasi ini akan berakhir dan mengaitkannya dengan "gelembung dot-com" di akhir tahun 90-an. Tidak sedikit yang khawatir jika uang yang mereka investasikan pada teknologi AI ini mungkin saja akan terbuang sia-sia.

Meskipun nama-nama perusahaan besar di bidang teknologi tengah menikmati optimisme mereka terhadap AI, pengeluaran mereka dalam dua tahun ke depan diprediksi akan lebih besar dibandingkan total pengeluaran mereka selama sepuluh tahun terakhir.

Memang, beberapa perusahaan raksasa yang mengembangkan AI saat ini telah menghasilkan banyak uang. Namun, beberapa ahli khawatir bahwa uang tersebut tidak cukup untuk mengimbangi tingkat pengeluaran yang cukup tinggi.

Dan Ives memproyeksikan jika pengeluaran mereka dalam dua tahun ke depan akan lebih besar dibanding total pengeluaran perusahaan selama sepuluh tahun terakhir.





Perusahaan teknologi besar mulai berutang

Untuk mengatasi masalah tersebut, beberapa perusahaan beralih ke pasar obligasi untuk membiayai perluasan infrastruktur dengan menerbitkan utang yang rencananya akan mereka bayar di kemudian hari.

Artinya, jika keuntungan menurun atau teknologi tersebut tidak memberikan hasil yang diharapkan, perusahaan bisa terbebani dengan pinjaman yang tidak mampu mereka bayar.
Konsekuensinya tidak hanya akan menghantam pasar saham. Hal ini juga dapat berdampak pada perekonomian secara keseluruhan.

Jeff Cox, Editor Ekonomi di CNBC, mengungkapkan bahwa perasaan atau sentimen masyarakat sangat mempengaruhi kecenderungan mereka dalam mengeluarkan uang. Jika masyarakat merasa kondisinya baik, mereka akan cenderung lebih banyak berbelanja.

Jika para CEO optimis bahwa bisnis mereka akan tumbuh, mereka juga tidak akan ragu untuk mengeluarkan uang untuk berinvestasi. Dan, yang tidak kalah penting, selama suku bunga rendah, perusahaan akan lebih berani untuk membelanjakan uang mereka.

“Namun, jika salah satu dari kondisi tersebut mulai memburuk, khususnya inflansi melonjak, hal itu akan mengubah sikap konsumen. Jika pasar tenaga kerja memburuk hal tersebut akan mengubah sikap konsumen. Hal ini akan mengubah sikap bisnis. Jadi, semua hal ini harus terus bekerja bersama agar siklus atau supersiklus pengeluaran AI ini dapat terus berlanjut. Jika salah satu dari mereka bergeser secara signifikan, hal itu dapat mengubah dinamika keseluruhan dan menyebabkan masalah,” jelas Jeff Cox.