Ada Insentif Mobil Listrik, VinFast Kepincut Pakai Baterai Nikel?
Uzone.id - Pemerintah mewacanakan insentif kendaraan listrik dibedakan bedasarkan jenis baterai yang digunakan. VinFast sebagai produsen mobil listrik yang menggunakan baterai LFP, membuka peluang untuk beralih ke nikel.
Belakangan ini, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya menegaskan skema insentif dirancang khusus untuk kendaraan listrik murni, bukan hybrid.
Salah satu instrumen utama dalam dorongan ini adalah Pajak Pertambahan Nilai (PPN) ditanggung pemerintah. Lebih lanjut mekanisme subsidi akan dibedakan berdasarkan jenis teknologi baterainya.
"Itu untuk yang utamanya EV. Bukan hybrid. Jadi yang baterainya berdasarkan nikel dan non-nikel akan berbeda skemanya. Tapi itu nanti (dijelaskan) Menteri Perindustrian," ujar Purbaya belum lama ini.
Keputusan ini diambil didasarkan pada strategi besar hilirisasi industri nasional. Indonesia yang punya cadangan nikel melimpah ingin memastikan sumber daya alam tersebut memberikan nilai tambah maksimal.
"Kenapa saya pakai nikel yang besar subsidinya, karena supaya baterai kita kepakai," ungkap Purbaya.
Nah sayangnya banyak produsen mobil listrik di Indonesia seperti VinFast yang masih menggunakan baterai LFP.
Kariyanto Hardjosoemarto selaku Chief Executive Officer VinFast Indonesia mengatakan perusahan menyambut positif rencana tersebut karena dinilai menunjukkan keseriusan dalam percepatan transisi kendaraan listrik.
"Pertama respons kami tentu berterima kasih kepada pemerintah. karena dengan diberikannya insentif ini menunjukkan keseriusan pemerintah untuk melakukan transisi dari ICE ke EV," ujar Kariyanto di Jakarta, Rabu (20/5).
Menurutnya, percepatan adopsi kendaraan listrik adalah hal yang penting di tengah kondisi geopolitik global saat ini. Di mana harga minyak dunia yang semakin tinggi dan berdampak pada besarnya subsidi energi.
"Dengan transisi ke EV tentu akan mengurangi jumlah subsidi," sebutnya.
Terkait insentif yang lebih besar untuk mobil listrik dengan baterai nikel, Kariyanto mengaku memahami tujuan pemerintah.
"Mengenai pembedaan baterai kami juga dapat mengerti. Karena Indonesia memiliki sumber nikel yang luar biasa besar. Tentu pemerintah ingin mengoptimalkan hal tersebut," ungkapnya.
Bahkan Kariyanto mengaku pihaknya tidak menutup kemungkinan untuk melakukan kajian terhadap alternatif material baterai lain seperti nikel di masa mendatang.
"Tapi untuk yang kami pakai saat ini memang baterainya masih LFP. Tapi tentu tidak menutup kemungkinan kalaupun melakukan study-study ke depannya untuk alternatif material baterai yang lain," jelas Kariyanto.
“Pada intinya kami akan mengikuti apa yang bisa diberikan pemerintah. Sampai nanti benar-benar keluar insentifnya baru kami akan coba pertimbangkan apa impact-nya terhadap harga dan sebagainya,” tambahnya.