600 Karyawan Google Protes, Tolak AI Dipakai Pemerintah AS buat Perang
Uzone.id – Sekitar 600
karyawan Google melakukan aksi protes dengan menandatangani surat terbuka yang
ditujukan kepada CEO Sundar Pichai. Dalam surat tersebut, mereka meminta agar
raksasa teknologi tersebut tidak menyediakan teknologi AI bagi Departemen
Pertahanan dan Perang Amerika Serikat, Pentagon.
Surat ini sebagian besar ditandatangani oleh karyawan yang
bekerja langsung dengan sistem AI Google dimana mereka menolak tegas teknologi
mereka digunakan dalam proyek-proyek bersifat rahasia.
Para karyawan ini juga menyampaikan kekhawatiran mereka atas
negosiasi yang berlangsung antara Google dan Departemen Pertahanan Amerika
Serikat tersebut saat ini.
“Sebagai seseorang yang bekerja di bidang AI, kami tahu bahwa sistem ini bisa memusatkan kekuasaan dan juga bisa membuat kesalahan. Kami merasa kedekatan kami dengan teknologi ini menciptakan tanggung jawab untuk menyoroti dan mencegah penggunaan yang paling tidak etis dan berbahaya,” tulis pada karyawan, dikutip dari Silicon Angle, Selasa, (28/04).
Kekhawatiran ini muncul setelah laporan yang menyebut Google
tengah bernegosiasi dengan Pentagon terkait penggunaan model AI Gemini dalam
lingkungan rahasia militer mereka.
Jika kesepakatan ini terjadi, Pentagon disebut dapat
menggunakan sistem tersebut untuk berbagai tujuan yang sah secara
hukum–termasuk dalam menyerang negara lain.
Para penandatangan juga mengingatkan risiko besar jika
keputusan yang diambil tidak tepat.
“Mengambil keputusan yang salah saat ini akan menyebabkan
kerusakan yang tidak dapat diperbaiki pada reputasi, bisnis, dan peran Google
di dunia. Nyawa manusia sudah hilang dan kebebasan sipil terancam akibat
penyalahgunaan teknologi yang kami turut berperan dalam mengembangkannya,”
tambah mereka.
Di sisi lain, OpenAI yang sudah sepakat dengan Pentagon diketahui telah merevisi kesepakatannya dengan Pentagon.
Salah satu klausul baru menyebutkan bahwa AI tidak boleh
digunakan untuk “pelacakan, pengawasan, atau pemantauan yang disengaja terhadap
warga atau penduduk Amerika Serikat, termasuk melalui perolehan atau penggunaan
informasi pribadi atau data yang dapat mengidentifikasi seseorang yang
diperoleh secara komersial.”
Meski begitu, karyawan Google tetap mengkritisi bahasa
kontrak semacam ini. Mereka menilai satu-satunya cara untuk memastikan
teknologi tidak disalahgunakan adalah dengan “menolak segala pekerjaan atau
proyek yang bersifat rahasia”.
Isu ini juga bertentangan dengan perubahan prinsip AI Google
dimana pada 2018 lalu, perusahaan berkomitmen tidak akan mengembangkan AI yang
berpotensi menyebabkan bahaya serta tidak akan mengembangkan teknologi untuk
senjata atau pengawasan.
Namun, kebijakan tersebut kini telah mengalami perubahan
dengan adanya negosiasi antara Google dengan Pentagon tersebut.
Sebelumnya, Anthropic juga sempat berselisih dengan
pemerintah AS karena menolak penggunaan sistem AI mereka untuk tujuan tersebut
dalam kontrak senilai 200 juta dolar. Setelah negosiasi gagal, DOD bahkan
menetapkan Anthropic sebagai ‘supply chain risk’.