Headline

5G Belum Menggeser WiFi di Indonesia, Ini Alasannya

Hani Nur Fajrina
5G Belum Menggeser WiFi di Indonesia, Ini Alasannya

Uzone.id – Kehadiran jaringan 5G membawa harapan baru bagi pengguna smartphone di Indonesia. Internet makin cepat, streaming makin lancar, dan download terasa instan. Namun, di balik semua kemajuan itu, satu kebiasaan lama masih bertahan: ketika ingin menonton lama, mengunduh besar, atau update sistem, banyak orang tetap mencari WiFi.

Entah di rumah, kantor, kafe, atau pusat perbelanjaan, WiFi masih menjadi comfort zone untuk aktivitas digital berat. Padahal, secara teknologi, jaringan mobile saat ini sudah jauh lebih mumpuni dibanding beberapa tahun lalu.

Data terbaru dari Opensignal menunjukkan bahwa fenomena ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di beberapa kawasan Asia Pasifik.





WiFi masih dominan, mobile terus tumbuh

Dalam risetnya, Opensignal mencatat bahwa layanan broadband tetap, termasuk WiFi rumah dan fixed wireless access (FWA), masih menyumbang sekitar 62 persen dari total trafik data smartphone di Asia Pasifik.

Namun, di beberapa negara seperti Taiwan, Malaysia, dan India, porsi penggunaan mobile sudah melampaui 50 persen. Ini menunjukkan bahwa dominasi WiFi mulai tergerus di pasar tertentu, terutama yang sudah memiliki paket data unlimited dan jaringan 5G yang matang.


Ilustrasi foto: Techietech Tech/Unsplash
Ilustrasi foto: Techietech Tech/Unsplash


Dari riset ini, Indonesia berada di posisi tengah.

Dalam periode Q4 2022 hingga Q4 2025, waktu penggunaan WiFi di Indonesia justru meningkat hingga 34 persen. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan penggunaan WiFi tercepat di kawasan, setelah India.

Peningkatan ini didorong oleh ekspansi jaringan fiber, munculnya layanan FWA berbasis 5G, serta semakin terjangkaunya paket internet rumah.





WiFi masih jadi andalan untuk aktivitas “berat”

Meski waktu penggunaan mobile relatif tinggi, data menunjukkan bahwa volume konsumsi terbesar tetap terjadi di jaringan WiFi.

Opensignal menyebut adanya pola “heavy-lift bias”, yaitu kecenderungan pengguna menyimpan aktivitas berat untuk dilakukan lewat WiFi. Aktivitas seperti streaming resolusi tinggi, download game besar, backup cloud, hingga update sistem, jarang dilakukan menggunakan kuota seluler.

Hal ini tercermin dalam indeks WiFi Heavy Data Use Propensity. Skor Indonesia berada di angka 85,3 dari 100, sejajar dengan Jepang, dan lebih tinggi dibanding Singapura maupun Malaysia.





Angka ini bukan satuan teknis, melainkan indeks yang menunjukkan kuatnya ketergantungan pengguna pada WiFi untuk aktivitas data besar, seperti streaming dan unduhan.

Dengan kata lain, skor 85,3 yang diperoleh Indonesia menunjukkan bahwa pengguna Tanah Air masih sangat bergantung pada WiFi untuk konsumsi data besar, meski sehari-hari aktif menggunakan mobile.

Sebagai perbandingan, Taiwan hanya mencatat skor sekitar 56,9, menandakan penggunaan mobile dan WiFi yang lebih seimbang. Salah satu penyebabnya adalah meluasnya paket unlimited di negara tersebut.

Faktor kuota dan tempat tinggal masih jadi penentu

Alasan utama mengapa WiFi tetap penting di Indonesia adalah soal biaya.

Sebagian besar paket data di Tanah Air masih berbasis kuota. Menonton film berdurasi dua jam dalam kualitas tinggi bisa menghabiskan beberapa gigabyte data. Mengunduh satu game modern bahkan bisa menembus 20 GB.

Dalam kondisi seperti ini, WiFi diyakini menjadi solusi paling aman. Pengguna tidak perlu memantau sisa kuota, tidak khawatir kehabisan data di tengah bulan, dan bisa menggunakan internet tanpa batas.

Berbeda dengan negara seperti Singapura atau Australia, di mana paket unlimited semakin umum, pengguna Indonesia masih harus berhitung dalam memakai data seluler.





Selain biaya, stabilitas juga menjadi faktor penting.

Meski 5G mampu menghadirkan kecepatan tinggi, performanya tetap dipengaruhi lokasi, kepadatan pengguna, dan kondisi jaringan. Di jam sibuk atau area padat, kualitas mobile bisa turun signifikan.

Sebaliknya, koneksi WiFi rumah berbasis fiber cenderung lebih konsisten. Untuk bekerja jarak jauh, video conference, atau streaming maraton, kestabilan sering kali lebih penting daripada kecepatan puncak.

Tak heran jika banyak pengguna tetap mengandalkan WiFi untuk aktivitas yang membutuhkan koneksi jangka panjang.


Foto ilustrasi: Markus Spiske/Unsplash
Foto ilustrasi: Markus Spiske/Unsplash


5G bukan pengganti, tapi pelengkap

Apakah ini berarti 5G gagal menggantikan WiFi? Nyatanya tidak juga.

Di negara maju, Opensignal mencatat bahwa waktu penggunaan WiFi justru menurun. Australia mengalami penurunan hingga 20 persen, Singapura 19 persen, dan Malaysia 14 persen.

Hal ini dipicu oleh kualitas 5G yang semakin stabil dan harga data yang makin murah.
Namun, di Indonesia, situasinya berbeda. Infrastruktur fiber masih terus berkembang, paket unlimited belum merata, dan kebutuhan data terus meningkat.

Akibatnya, mobile dan WiFi tidak saling menggantikan, melainkan saling melengkapi. Mobile memberi kebebasan untuk tetap terhubung di mana saja. WiFi memberi kenyamanan untuk mengonsumsi data tanpa rasa khawatir.